Cari

Acom Icun

bulan

Maret 2016

Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang

Karya: Taufiq Ismail

Sebuah orde tenggelam
sebuah orde timbul
tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu selamat
Mereka tidak mengalami guncangan yang berat
Yang selalu terapung di atas gelombang
Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah
Di negeri kami ungkapan ini begitu indah
Kini simaklah sebuah kisah
Seorang pegawai tinggi gajinya satu setengah juta rupiah
Di garasinya ada Volvo hitam, BMW abu-abu,
Honda metalik, dan Mercedes merah
Anaknya sekolah di Leiden, Montpellier dan Savana
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan macam-macam indah
Setiap semester ganjil istri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura
Setiap semester genap istri gelapnya liburan di Eropa dan Afrika
Anak-anaknya …. Lanjutkan membaca “Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang”

Syair Empat Kartu di Tangan

Karya: Taufiq Ismail

Ini bicara blak-blakan saja, bang
Buka kartu tampak tampang
Sehingga semua jelas membayang

Monoloyalitas kami
sebenarnya pada uang
Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara
Koyak tampak terkubak semua
Sehingga buat apa basi dan basa Lanjutkan membaca “Syair Empat Kartu di Tangan”

Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu

Karya: Taufiq Ismail

Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersama beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru
Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru
Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu
Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu
Sampai kini sejak kau lahir dahulu
Inilah pengakuan generasi kami, katamu
Hasil penataan dan penataran yang kaku
Pandangan berbeda tak pernah diaku
Daun-daun hijau dan langit biru, katamu
Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu
Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu
Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu
Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu
Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu
Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu
Maka kami bergeraklah kini, katamu
Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju
Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu
Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu
Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu
Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu
Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu
Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu.
1998

Tawaf Hati

Karya: Acom Icun

Tuhan kami, tidaklah yang Engkau ciptakan semua ini sia-sia
Kami hanya sebutir debu yang beterbangan di atas bumi-Mu
Maha Suci Engkau Ya Rabb
Zikir yang kami persembahkan hanya sebatas hitungan jemari
Namun kami selalu tenggelam dalam keresahan
Sebab zikir itu tak menyentuh kalbu
Hati ini terlalu keras, hingga zikir-zikir memantul darinya
Mata pun terhalang melihat angkasa raya ciptaan-Mu
Karena pandangan kami tertutup gedung-gedung pencakar langit
Hati kami selalu terbelenggu oleh ketamakan
Hingga hutan-Mu kami bakar, isi perut bumi-Mu kami keruk
Dan firman-Mu hanya sebagai simbol kami bertuhan Lanjutkan membaca “Tawaf Hati”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑