Cari

Acom Icun

bulan

Oktober 2015

Tiga Tangga Sama, Kau Daki Berulang Kali

Karya: Taufik Ismail

I
Di tahun empat lima ketika situasi berbalik kilat Setelah berpuluh tahun orang menunggu Ketika akhirnya jadi proklamasi dibacakan Perubahan secepat telapak tangan dibalikkan Tiba-tiba banyak saja orasi berapi-api Pidato patriotik berhamburan kosong Cuma sedikit dalam catatan yang berisi Pasukan Jepang ditelikung, senjata dilucuti Inggeris dan Belanda dilawan dengan revolusi
Di kawasan kumuh dan pedesaan, rakyat susah makan Begitu sabarnya, tanpa suara, mereka menantikan Dan akan terus kalian atas namakan Lanjutkan membaca “Tiga Tangga Sama, Kau Daki Berulang Kali”

Bersyukurlah San, Bersyukurlah

Karya: Taufik Ismail

Bersyukurlah San, kau tak ikut-ikutan Mempersembahkan gelar Pemimpin Besar Revolusi Bersyukurlah
Bersyukurlah San, kau tak turut-turutan Menjunjungkan gelar Bapak Pembangunan Bersyukurlah
Bersyukurlah San, kau tak terpikat kedudukan Jadi anggota MPR mewakili seniman Bersyukurlah
Bersyukurlah San, kau menolak buku larangan
dan cekal pementasan Pegal lehermu melobi terus-terusan Bersyukurlah
Sehingga bila keturunanmu kelak bertanya Waktu lama dulu kakek tegak di mana Engkau agak lega bisa bercerita.
1998

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Karya: Taufik Ismail

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini Lanjutkan membaca “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”

Mantera

Karya: Sutardji C. Bachri

Lima percik mawar
Tujuh sayap merpati
Sesayat langit perih
Dicabik puncak gunung
Sebelas duri sepi
Dalam dupa rupa
Tiga menyan luka
Mengasapi duka
Puah!
Kau jadi Kau!
Kasihku

Aku Berada Kembali

Karya: Chairil Anwar
Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna,kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;
rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari lain.

Lanjutkan membaca “Aku Berada Kembali”

Batu

Karya: Sutardji C. Bachri

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji? Lanjutkan membaca “Batu”

Para Peminum

Karya: Sutardji C. Bachri

di lereng lereng
para peminum
mendaki gunung mabuk
kadang mereka terpeleset
jatuh
dan mendaki lagi
memetik bulan
di puncak
mereka oleng
tapi mereka bilang
–kami takkan karam
dalam lautan bulan–
mereka nyanyi nyai
jatuh
dan mendaki lagi
di puncak gunung mabuk
mereke berhasil memetik bulan
mereka menyimpan bulan
dan bulan menyimpan mereka
di puncak
semuanya diam dan tersimpan

Herman

Karya: Sutardji C. Bachri

Herman tak bisa pijak di bumi tak bisa malam di bulan
Tak bisa hangat di matari tak bisa teduh di tubuh
Tak bisa biru di lazuardi tak bisa tunggu di tanah
Tak bisa sayap di angin tak bisa diam di awan
Tak bisa sampai di kata tak bisa diam di diam tak bisa paut di mulut
Tak bisa pegang di tangan takbisatakbisatakbisatakbisatakbisatakbisa

Di mana herman? Kau tahu?
Tolong herman tolong tolong tolong tolongtolongtolongtolongngngngngng!

Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK ,1981 1

Walau

Karya: Sutardji C. Bachri

Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas Allah

Dulu pernah kuminta tuhan
Dalam diri
Sekarang tak Lanjutkan membaca “Walau”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑