Cari

Acom Icun

Hujan, Jalak, dan Daun Jambu

Karya: Sapardi Djoko Damono

Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

 
1992

Iklan

Ajaran Hidup

Karya: Sapardi Djoko Damono

hidup telah mendidikmu dengan keras
agar bersikap sopan –
misalnya buru-buru melepaskan topi
atau sejenak menundukkan kepala –
jika ada jenazah lewat

hidup juga telah mengajarmu merapikan
rambutmu yang sudah memutih,
membetulkan letak kacamatamu,
dan menggumamkan beberapa larik doa
jika ada jenazah lewat

agar masing dianggap menghormati
lambang kekalahannya sendiri

1992

Terbangnya Burung

Karya: Sapardi Djoko Damono

terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari makna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali

1994

Sehabis Mengantar Jenazah

Karya: Sapardi Djoko Damono

masih adakah yang akan kau tanyakan
tentang hal itu? hujan pun sudah selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap
di bawah bunga-bunga menua, matahari yang senja

pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kembali bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya

masih adakah? alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba

1967

Berjalan di Belakang Jenazah

Karya: Sapardi Djoko Damono

berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia

di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya

1967

Saat Sebelum Berangkat

Karya: Sapardi Djoko Damono

mengapa kita masih juga bercakap
hari hampir gelap
menyekap beribu kata diantara karangan bunga
di ruang semakin maya, dunia purnama

sampai tak ada yang sempat bertanya
mengapa musim tiba-tiba reda
kita di mana. waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring jenazah menanti

1967

Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati

Karya: Sapardi Djoko Damono

bumi tak pernah membeda-bedakan, seperti ibu yang baik.
diterimanya kembali anak-anaknya yang terkucil
dan membusuk, seperti halnya bangkai binatang, pada
suatu hari seorang raja, atau jenderal, atau pedagang,
atau klerek – sama saja.

dan kalau hari ini si penjaga kubur, tak ada bedanya. ia
seorang tua yang rajin membersihkan rumputan,
menyapu nisan, mengumpulkan bangkai bunga dan
daunan; dan bumi pun akan menerimanya seperti ia
telah menerima seorang laknat, atau pendeta, atau seorang
yang acuh-tak-acuh kepada bumi, dirinya.
Continue reading “Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati”

Kemegahan

Karya: Muhammad Yamin

(Pusaka bersama ialah “Bahasa”)

Aduh kekasihku juita kesuma
Di mana gerangan intan mutiara
Pusaka nenekku milik bersama
Hilang sahaja tidak berkira? Continue reading “Kemegahan”

Indonesia Tumpah Darahku

Karya: Muhammad Yamin

Bersatu kita teguh
Bercerai kita runtuh
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gunung bagus rupanya Continue reading “Indonesia Tumpah Darahku”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑